JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi membunyikan klakson tiga
kali di depan Kedutaan Besar Australia sebagai bentuk protes penyadapan
masih sebatas wacana di media sosial saja. Pada kenyataannya, aksi
tersebut belum kedengaran.
Kompas.com melakukan pemantauan di
depan Gedung Kedubes Australia di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan,
Rabu (20/11/2013) pagi. Selama 30 menit, suara klakson tiga kali yang
tepat berasal dari depan gedung itu hanya dua kali terdengar.
Sisanya
hanya suara klakson biasa yang memang lazim terdengar di jalan raya
ibukota. Petugas keamanan yang berjaga di depan gedung pun tidak
mengetahui mengenai aksi klakson tiga kali itu. Mereka juga mengaku,
sejak kemarin tidak menyadari adanya suara klakson yang tidak lazim.
"Tidak
ada, dari kemarin biasa saja. Ya kalau suara klakson sering, tapi
sepertinya tidak ada yang sampai tiga kali dan diarahkan kesini," ujar
salah satu petugas.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan
yang terjadi di media sosial, twitter. Hingga berita ini diturunkan,
tweet tagar klakson3x di twitter masih terus bermunculan.
"Bagaimanapun juga kita harus protes untuk dugaan kuat penyadapan yg di lakukan pemerintah australia kepada Indonesia #klakson3x," tulis akun @besuspriantana.
Padahal,
jika aksi klakson tiga kali sebagai bentuk protes ini benar-benar
dilakukan secara intensif, menurut Ketua Forum Telematika KTI Hidayat
Nahwi Rasul, bisa menjadi upaya protes yang sangat baik dari rakyat
Indonesia kepada Australia.
"Aksi klakson 3x ini menunjukkan kalau netizen sadar ini sudah emergency. Ini menandakan rakyat peduli dengan negaranya yang diperlakukan tidak baik oleh negara lain," ujar Hidayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar