KOMPAS.com - Tiga belas tahun sudah Rita Yacub (40)
menetap di Sebatik, Provinsi Kalimantan Utara. Di sana, dia terpaksa
bolak-balik melintasi garis batas Indonesia dan Malaysia. Bukan lantaran
menjadi tenaga kerja wanita, tetapi itu untuk berbagai urusan, antara
lain berobat, membeli pakaian, pelesir, dan membeli berbagai jenis
makanan pokok.
Rita bercerita, dirinya pernah mengalami
pendarahan hebat akibat keguguran beberapa waktu lalu. Bukannya berobat
ke puskesmas terdekat, ia ditemani suaminya justru melintas ke
perbatasan dan mengandalkan pengobatan di sebuah rumah sakit di Kota
Tawau, Sabah, Malaysia.
”Di sana, penanganannya lebih baik
walaupun kami bukan orang Malaysia. Kami dijaga dan diperhatikan terus
oleh dokter atau perawat. Tidak seperti di puskesmas yang pelayanannya
ala kadarnya, kadang harus dirujuk ke Nunukan yang jaraknya lebih jauh
(dari Tawau),” ujar Rita di rumahnya, di Desa Pancang, Pulau Sebatik,
Kabupaten Nunukan, Rabu (9/10).
Hal lainnya yang membuatnya lebih
suka berobat ke Tawau adalah kemudahan pembiayaan. Biaya berobat di
rumah sakit di Tawau ternyata bisa dicicil. Ketika mengalami pendarahan,
dia bercerita, suaminya hanya membayar awal 500 ringgit Malaysia dari
total 1.500 RM (Rp 5,2 juta) untuk biaya rawat inap dan pengobatan.
”Sisanya
saya cicil. Pembayarannya dibebaskan, tidak ada batas waktu. Bahkan,
dari beberapa pengalaman, jika sakitnya parah, mereka membolehkan kita
masuk dahulu. Soal biaya, bisa nanti. Di sini (Indonesia), mana bisa
seperti itu?” ujar Rita yang suaminya berprofesi sebagai juru mudi
kapal.
Rita hanya salah satu dari ribuan warga Pulau Sebatik yang
hidup bergantung dari layanan jasa dan barang produksi dari Malaysia.
Di pulau yang terbagi dua antara Indonesia dan Malaysia ini, transaksi
ekonominya menggunakan dua mata uang, yakni rupiah dan ringgit.
Di
warung-warung di Sebatik Selatan yang masuk ke wilayah Indonesia dapat
ditemui dengan mudah berbagai produk Malaysia, seperti permen, gula
pasir, minyak goreng, beras, dan elpiji. Pemilik warung pun senantiasa
menyiapkan ringgit untuk transaksi.
Bahkan, untuk urusan pelesir,
sekadar membeli makanan siap saji, warga Sebatik memilih menyeberang ke
negeri jiran. ”Anak saya suka dengan KFC (makanan siap saji). Di sini,
termasuk di Nunukan, belum ada. Yang ada mungkin di Tarakan, tetapi itu
sangat jauh,” ujar Rita.
Tawau bisa dicapai hanya 15- 20 menit
dengan speed boat dari Pelabuhan Sungai Nyamuk, Sebatik Selatan.
Biayanya hanya 20 RM (Rp 70.000). Sementara itu, untuk ke Nunukan, kota
terdekat di Kalimantan Utara, butuh biaya Rp 80.000-Rp 100.000 dengan
waktu perjalanan 1,5–2 jam. ”Makanya, warga Sebatik lebih suka ke Tawau.
Lagipula, di sini, tidak semua barang dipasok pemerintah, seperti gas,”
ujar Samsuddin, warga lainnya.
Kota Tawau ibarat cahaya temaram
yang berkilau di balik gelapnya Sebatik. Dari Dermaga Batu di Pulau
Sebatik, lansekap Tawau—kota terbesar ketiga di Sabah, Malaysia—terlihat
jelas. Bangunan-bangunan bertingkat berjajar di kota itu, jalan raya
pun tersambung hingga ke kota lain di Sabah, seperti Kinabalu.
Sementara
itu, di Pulau Sebatik, warga harus terbiasa dengan listrik padam. Gas
biru elpiji pun tidak masuk ke sini. Untuk kebutuhan air bersih, warga
terpaksa membeli Rp 60.000 per tangki (1.000 liter). Bahkan, ada pula
yang mengambil dari kerabatnya di Tawau. Namun, ketergantungan air dari
Malaysia ini mulai berkurang semenjak dibangun embung seluas 15 hektar
serta sumur bor oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Sebagian rumah warga
telah teraliri air bersih berkat proyek itu.
Penyelundupan
Budirman
(42), warga Sebatik lainnya, bercerita, sebagian kerabatnya memilih
bekerja dan menjadi warga negara Malaysia. ”Banyak keluarga saya,
seperti sepupu, tinggal di seberang. Di sana mudah mencari pekerjaan.
Lansia yang tidak lagi bekerja pun dapat gaji dari pemerintah 300
ringgit per bulan,” ujar warga asli Bugis yang rumahnya persis di tapal
batas Indonesia- Malaysia di Pos Perbatasan Aji Kuning ini.
Dalam
pertemuan dengan jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, awal
Oktober lalu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Nunukan Robby Serang
mengakui ketergantungan warga Sebatik terhadap Malaysia. Sekitar 70
persen kebutuhan pokok dipenuhi dari negara tetangga. ”Bahkan, kami
menemukan ada sejumlah warga memiliki dua KTP, dari Indonesia dan
Malaysia,” tuturnya.
Di wilayah perbatasan, masyarakat berikut
bahan-bahan kebutuhan pokok keluar masuk dengan intensitas tinggi,
nyaris tanpa pembatasan. Untuk menyeberang ke Malaysia, warga Sebatik
cukup mengeluarkan kartu pas lintas batas, bahkan tidak jarang hanya
KTP. Pembelian bahan kebutuhan pokok tidak dikenai bea masuk oleh aparat
Bea dan Cukai.
Kondisi ini mengakibatkan rawannya peredaran
barang impor ilegal, seperti narkoba dan minuman keras. Kantor Pelayanan
dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Nunukan beberapa kali mendapati
warga menyelundupkan heroin dan sabu asal Malaysia melalui wilayah ini.
Setiap tahun, ribuan miras pun disita.
Penyelundupan narkoba
sempat menjadi bisnis menggiurkan bagi anak-anak muda di Nunukan dan
Sebatik. ”Dahulu, bisnis (penyelundupan) narkoba di sini seperti jualan
ikan asin. Asal punya boat (kapal), itu mudah dilakukan. Sekarang mulai
berkurang karena banyak aparat TNI dan pengetatan oleh Pemerintah
Malaysia,” tutur Nurhasibah (32), warga Sebatik.
Menyikapi
kondisi ini, Herman HB, tokoh warga Sebatik, berharap pemerintah
mempercepat rencana pemekaran di Sebatik. ”Sebatik telah diusulkan
menjadi kota, daerah otonomi baru. Potensi kami (untuk maju) sangat
besar. Di Selat Ambalat ada cadangan minyak. Perkebunan kakao dan sawit
juga berkembang. Dengan menjadi kota tersendiri, pembangunan
infrastruktur bisa lebih cepat dan investor bisa masuk,” ujar Ketua Tim
Wahana Pemekaran Sebatik ini.
Dalam kunjungannya ke Sebatik,
Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono menuturkan,
pembangunan di wilayah perbatasan seperti Sebatik menjadi pekerjaan
rumah bagi pemerintah. Paradigma pembangunan yang sempat terfokus di
Pulau Jawa harus diubah. Kawasan perbatasan perlu mendapatkan perhatian
khusus.
”Di tempat kita, kawasan perbatasan seperti ini sering
dianggap sebagai pulau terluar, backyard (halaman belakang) negara.
Inilah istilah yang salah kaprah. Harusnya, seperti di negara lain,
wilayah perbatasan menjadi frontyard (teras). Upaya meningkatkan
perekonomian di sini harus menjadi tanggung jawab bersama lintas-sektor,
termasuk pihak Bea dan Cukai,” ujarnya. (Yulvianus Harjono)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar